Tampilkan postingan dengan label intelijen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intelijen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2011

Kata Siapa BB and I phone 4paling aman, nih buktinya,,,


"Hacker" Taklukkan BlackBerry Torch dan iPhone 4

Di tangan hacker, iPhone 4 buatan Apple dan BlackBerry Torch buatan Research In Motion (RIM) ternyata masih bisa dijebol sistem keamanannya. Para hacker yang berpartisipasi dalam kontes Pwn2Own di Vancouver, Kanada, 9-11 Maret 2011, itu berhasil menaklukkan dua smartphone tersebut.
Tiga peneliti dengan nama Team Anon sukses menembus sistem keamanan BlackBerry Torch lewat banyak kelemahan yang ditemukan di Webkit atau mesin rendering browser bawaannya. Mereka berhasil membuktikan dapat menyusupkan program ke perangkat tersebut dengan mengeksploitasi sejumlah kelemahan itu untuk mencuri daftar kontak dan database foto.
Meski banyak kelemahan, tidak mudah menembus BlackBerry. Hal ini karena tidak ada dokumentasi untuk publik mengenai sistem operasi tersebut. Karena itu, hacker harus melakukan teknik trial and error untuk mencoba menembus.

Webkit memang salah satu bagian yang menjadi potensi sasaran empuk. BlackBerry Torch merupakan perangkat BlackBerry pertama yang menggunakan Webkit di browser-nya. Namun, browser tersebut masih belum dilengkapi address space layout randomization (ASLR) dan data execution prevention (DEP). Menurut Iozzo, meski masih dibilang ketinggalan ketimbang iPhone dari sisi keamanan, ketertutupan BlackBerry jadi hambatan tersendiri.

Selasa, 14 Desember 2010

Indoleaks.org hoax or real....?!

entah,,kmarin mendengar istilah wikileaks yang menggemparkan dunia dengan informasi informasi didalamnya (gimana ngaa,,ya berita rahasia amerika yang di upload coba,,,siapa yang ga ketar ketir =))
sekarang muncul tandingan, tepatnya sahabat nya wikileaks..yaitu indoleaks yang isinya ga jauh jauh dari wikileaks,,yang berisi dokumen yang dahulu yang di upload dan jadi konsumsi khalayak luar,,
minta comment gan,,hoax or not??
yang masi ga tau indoleaks...klik

Senin, 05 April 2010

Kritik Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN)



sumber : http://intelindonesia.blogspot.com/2010/02/sekolah-tinggi-intelijen-negara.html
Pertama, STIN bagi saya hanya sebuah jalan pintas perbaikan sumber daya insan intelijen yang memiliki berbagai celah yang disebabkan kecerobohan pimpinan dalam memilih proses pembinaan insan intelijen yang cenderung tersentral dan militeristik. Kelemahan yang dihadapi insan intelijen alumni STIN adalah justru karena identitas background pendidikannya dari STIN, selama 4 tahun berada didalam lembaga pendidikan formal setingkat strata I dengan gelar sarjana intelijen, apakah hal ini masuk akal dalam teori-teori dasar intelijen? Saya sungguh-sungguh sangat kasihan dan prihatin dengan gerak langkah adik-adik yang akan sangat berat karena terlalu lama terasingkan dari sistem sosial pendidikan yang wajar misalnya di Universitas umum. Tidak ada satupun lembaga intelijen di dunia yang melakukan kecerobohan sebagaimana di Indonesia dengan proyek STIN. Pada akhir tahun 1970-an saya pernah dilatih CIA dan pada tahun 1980-an saya pernah menyaksikan sistem pendidikan di Mossad, sangat jauh dari apa yang dirancang oleh LetJen (Purn) Hendropriyono yang haus ilmu namun kebablasan karena kurang memperhitungkan masa depan lulusan STIN. Belajar intelijen secara akademik akan selalu bersifat akademik dengan segala metode ilmiahnya, mempraktekan intelijen adalah seperti profesi yang memerlukan latihan, praktek, yang kemudian berproses dalam kematangan profesionalisme. Selamanya seorang insan intelijen bersifat tertutup dengan jutaan cover yang melindunginya, lalu bila kita memperhatikan sarjana intelijen dari lembaga pendidikan yang dikelola oleh lembaga resmi intelijen, dimana letak cover kehidupannya, track recordnya, sejarahnya, dll. sangat sulit bukan? Itulah sebabnya saya kasihan, dan Blog I-I sangat terbuka untuk menolong adik-adik STIN untuk dapat survive di dunia yang kejam, bukan hanya di dalam institusi melainkan di dunia nyata baik di dalam maupun di luar negeri.

Kedua, karena nasi sudah menjadi bubur, dimana STIN sudah berdiri, dikenal luas dan mulai menjadi sasaran cita-cita generasi muda Indonesia karena daya tariknya yang luar biasa, tentunya perlu dipikirkan jalan pembinaan yang meyakinkan untuk menciptakan cover kehidupan yang akan membangun profesionalisme lulusan STIN, sebuah tugas yang tidak mudah. Saya sendiri menduga, betapapun beratnya lulusan STIN untuk membangun kredibilitas jutaan cover kehidupannya, semua akan berpulang kepada individu masing-masing, dengan kata lain jangan mengharapkan institusi akan terus-terusan memfasilitasi proses pengembangan insan intelijen alumni STIN. Akan beruntung apabila adik-adik STIN berada dibawah pembinaan Spy Master yang kaya pengalaman, tetapi bagaimana bila anda jatuh dibawah pembinaan bahkan oleh senior intelijen yang tidak berkualitas....ya saya tegaskan tidak berkualitas. Anda akan hancur dalam singkat, mengalami demoralisasi, menjadi frustasi, dan kecewa dengan kenyataan.





Ketiga, secara kualitas bolehlah saya katakan lulusan SMA yang diterima STIN adalah putra-putri terbaik Indonesia. Kemudian mengalami proses pendidikan yang luar biasa, teori dan teknik yang mutakhir. Namun saya menduga akan miskin inspirasi, kurang semangat, dan sering kehilangan arah, bahkan muncul kecenderungan untuk semena-mena serta kurang menghayati makna menjadi insan intelijen yang mengabdikan diri hanya untuk kepentingan rakyat, bangsa, negara, melalui penyusunan produk intelijen untuk single client, the President. Saya hanya khawatir kualitas terbaik tersebut akan terkooptasi oleh budaya pembusukan yakni menggunakan ilmu intelijen untuk kepentingan pribadi, kelompok dan politik tertentu, serta terkungkung dalam paradigma ketakutan dengan mengedepankan ancaman, sampai-sampai lupa bahwa tidak semua aspek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus dilihat dari sisi ancaman. Benar bahwa waspada adalah kunci keselamatan, tetapi intelijen sebagaimana artinya adalah kelompok manusia cerdas yang dapat melihat, menilai dan memperkirakan serta memiliki alternatif jalan keluar yang tepat bagi negara.

Keempat, STIN tidak ubahnya sama dengan sekolah-sekolah milik Departemen seperti STAN, STIS, STSN, STPDN, dll yang diharapkan dapat menjadi sumber dari tenaga-tenaga profesional untuk memajukan organisasi. Hanya saja berbeda dengan lembaga yang lebih terbuka, akan sangat sulit bagi seseorang yang menyandang keilmuan intelijen untuk membangun kerahasiaan dirinya yang sesungguhnya, atau dengan kata lain sejak lahirnya sudah memiliki label intelijen. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Mossad dan FSB yang hampir seluruh operatornya adalah tentara pilihan dari yang paling terpilih, kemudian membangun identitas baru yang disiapkan secara khusus dan benar-benar lahir dalam suatu identitas baru. Berbeda juga dengan model pendidikan intelijen Barat dengan dua contoh CIA dan MI6 yang merekrut lulusan terbaik dari universitas terbaik dari berbagai bidang, kemudian memberikan bekal pendidikan intelijen khusus selama periode tertentu, mulai dari 3 bulan untuk standar posisi clerical, hingga tahunan dan kekhususan yang dititipkan kepada universitas terbaik di masing-masing negara (AS, Inggris). Saya pernah melakukan pengawasan khusus dengan networking pemerhati Indonesia, bahwa sejumlah agen analis CIA dan MI6 belajar di Indonesia dan Australia, semua sangat normal dan bahkan bersahabat dengan banyak orang Indonesia. Perbedaan yang sangat mendasar adalah dalam melatih agen operasional yang tidak terlalu membutuhkan pendidikan formal yang mendalam, yang diperlukan hanya dasar pengetahuan yang kuat dan pelatihan khusus sehingga memiliki skill yang sangat tinggi dibidang keahliannya. Sudahkan STIN memikirkan hal ini ?

Dalam era yang semakin terbuka, dan gelombang demokrasi yang terus bergerak dinamis di Indonesia, Intelijen Indonesia perlu mengantisipasi masa depan yang sudah semakin dekat dengan berbagai persiapan strategis termasuk dalam mempersiapkan tenaga-tenaga handal melalui berbagai metode rekrutmen, STIN hanya salah satu model dengan berbagai kekuatan dan kelemahannya.

Akhirnya saya ingin bertanya kepada pimpinan STIN, akankah siap untuk membuka diri dengan sistem seleksi nasional yang dapat dipertanggungjawabkan, lebih jauh lagi bagaimana dengan peningkatan kualitas pendidikan dari waktu ke waktu, dan bagaimana pula dengan rencana pembinaan karirnya di masa mendatang.

Kepada ratusan (entah mungkin sudah mencapai ribuan) pengirim email kepada Blog I-I yang menanyakan tentang STIN, perlu adik-adik pikirkan lagi secara serius apakah studi intelijen menjadi menarik karena fantasi James Bond atau Jason Bourne? ataukah karena kesungguhan ingin mendalami dan mengabdikan diri dalam dunia intelijen Indonesia? keduanya sangat berbeda.

Pada akhirnya perlu saya sampaikan bahwa seleksi masuk STIN saya dengar cukup ketat dan hanya sedikit yang diterima (30 orang setiap tahun, mungkin sekarang sudah bertambah). Bila menginginkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dapat menghubungi Kementerian Pendidikan Nasional untuk menanyakan contact point, atau langsung ke Kantor BIN yang sangat terkenal tertutup itu di kawasan Pasar Minggu. Apabila dari kedua pintu tersebut, adik-adik belum berhasil maka saya menterjemahkan posisi STIN sebagai sekolah yang tertutup dengan sistem seleksi yang tertutup pula, yang mungkin hanya dipahami oleh Tim yang melakukan rekrutmen dan lulusan SMA yang telah direkrut. Tidak banyak yang dapat diinformasikan oleh Blog I-I, karena faktanya ketertutupan merupakan ciri khas dunia intelijen.

Selamat mencoba.




Selasa, 23 Maret 2010

Menelisik Perjalanan Intelijen di Indonesia.


tiada lelah dan tiada henti, itu kata yang menurut saya menggambarkan tentang istilah "intelijen", yah, intelijen sudah kita kenal dari zaman dahulu, salah satu faktor yang sangat penting dan menentukan darui sebuah kemajuan suatu bangsa,,,

Perkembangan lembaga intelijen Indonesia di masa lalu dapat dibagi dalam dua babak penting, yakni babak intelijen perjuangan dan babak intelijen pembangunan (Wirawan, 2005). Dari istilah yang digunakan, sudah dapat dibayangkan bahwa babak intelijen perjuangan terjadi di masa-masa perang revolusi kemerdekaan dan beberapa saat setelah kekuatan kolonial meninggalkan Indonesia.

Tulisan ini dimuat dalam “Komisi I: Senjata, Satelit dan Diplomasi”.

Adalah Kolonel Zulkifli Lubis, seorang perwira militer alumni Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang, yang mengawali babak intelijen perjuangan ini. Zulkifli Lubis memimpin Badan Istimewa (BI) yang didirikan bulan September 1945 dengan tugas mengumpulkan sebanyak mungkin informasi menjelang kedatangan pasukan Belanda setelah Perang Dunia II berakhir. Wilayah negara yang begitu luas dan kemampuan mobilisasi yang masih amat terbatas, memaksa BI untuk sementara hanya beroperasi di Pulau Jawa. Tingkat pengalaman dan koordinasi yang rendah dari seluruh operasi intelijen di masa itu pun membuat keputusan politik pemerintah yang didasarkan pada laporan-laporan intelijen menjadi tidak optimal.

Walaupun menandatangani seluruh dokumen otorisasi laporan BI, namun Presiden Sukarno bisa dikatakan tidak memiliki kendali penuh atas operasi intelijen BI. Ia juga tidak dapat mengontrol operasi intelijen yang dilakukan kelompok militer yang memandang kegiatan intelijen sebagai bagian dari tugas mereka sebagai satuan tempur nasional. Intinya, koordinasi operasi intelijen di masa itu kacau.

Kondisi ini memaksa pemerintah beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 7 Mei 1946, mendirikan sebuah lembaga intelijen baru yang diberi nama Badan Kerahasian Negara (Brani) sebagai payung besar bagi berbagai operasi intelijen yang dilakukan satuan-satuan intelijen di seluruh Pulau Jawa. Seperti BI, Brani juga dipimpin Zulkifli Lubis. Walau telah diberi mandat sedemikian besar, namun pada praktiknya Brani pun terlibat dalam pertarungan kepentingan. Kali ini yang dihadapi Zulkifli adalah Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin yang juga membentuk lembaga intelijen di departemen yang dipimpinnya. Menyusul Brani, juga dibentuk Lembaga Pertahanan B yang dimaksudkan sebagai alat tanding untuk menghadapi pengaruh pihak sipil atas lembaga intelijen di tingkat nasional.

Pekerjaan Zulkifli Lubis terbilang berat. Selain menghadapi Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin yang mewakili kelompok sipil, dia juga harus bersitegang dengan kelompok militer yang masih ingin mendominasi operasi intelijen nasional. Fragmentasi ideologi politik kanan-tengah-kiri ketika itu ikut mempengaruhi perebutan pengaruh baik di tingkat elit lembaga intelijen maupun di saat operasi intelijen tengah berlangsung di lapangan. Kelompok militer yang “kanan” mengandaikan bahwa mereka berhadapan dengan koalisi kelompok “tengah” yang dipimpin Zulkifli Lubis dan kelompok “kiri” yang dimotori Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin.

Namun sesungguhnya, dua kelompok terakhir pun memiliki rivalitas yang tak mudah untuk dipadamkan. Pada episode selanjutnya, Brani dibubarkan dan Departemen Pertahanan membentuk lembaga intelijen Bagian V sebagai organisasi yang mengoordinir semua operasi intelijen di tingkat nasional. Kolonel TB Simatupang yang memimpin Angkatan Perang ketika itu juga mengambil inisiatif membentuk Biro Informasi Staf Angkatan Perang (BISAP). Pembentukan lembaga ini memperlihatkan pandangan kelompok militer yang tetap ingin terlibat dalam pengambilan keputusan politik tingkat nasional. Keadaan tak menentu ini terus berlangsung dan cenderung parah di saat Indonesia mengadopsi sistem pemerintahan parlementer.

Hiruk-pikuk rivalitas dan perebutan pengaruh di panggung intelijen nasional sedikit dapat diredakan setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit 1 Juli 1959, yang berarti menjadikan dirinya sebagai pemain utama di atas panggung politik nasional. Sebuah lembaga intelijen bernama Badan Koordinasi Intelijen (BKI) sempat dibentuk walau tak berumur panjang karena kesulitan koordinasi dengan kubu militer. Tanggal 10 November 1959, Badan Intelijen Pusat (BIP) didirikan dengan kewenangan mengkoordinir lembaga intelijen lainnya, termasuk yang dikuasai oleh korps loreng. BIP bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden Sukarno yang memberikan dukungan dana dalam jumlah besar untuk lembaga ini. Presiden Sukarno menunjuk orang kepercayaannya, Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio, untuk memimpin lembaga ini. Tetapi BPI dan karier Subandrio di dunia intelijen berakhir bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Presiden Sukarno delapan tahun kemudian.

Melanjutkan BIP, Pangkopkamtib Jenderal Soeharto yang kemudian menggantikan Presiden Sukarno mendirikan Komando Intelijen Negara (KIN) pada bulan Agustus 1966. Inilah tonggak babak intelijen pembangunan, dimana rivalitas politik yang diperkirakan mengancam kewibawaan pemerintahan Orde Baru difatwakan sebagai sesuatu yang haram.

Dipimpin Letnan Jenderal Yoga Sugama, salah seorang kepercayaan Soeharto, KIN bertanggung jawab langsung kepada Pangkopkamtib. Yang juga menjadi tugas lain KIN adalah membersihkan elemen pendukung rezim Sukarno, termasuk anggota dan pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Bulan Mei 1967, KIN berubah nama menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) dengan tugas utama mengumpulkan informasi dari luar negeri (intelligence gathering) dan operasi kontra spionase (counter espionage). Sementara itu fungsi pengawasan dalam negeri dijalankan oleh Satuan Khusus Intelijen atau Satsus Intel (Wirawan, 2005).

Karakter lembaga intelijen di masa awal Orde Baru ini disesuaikan dengan desain politik yang dikembangkan pemerintahan Soeharto yang menitikberatkan dan memprioritaskan stabilitas nasional. Pemerintah percaya hanya dengan stabilitas nasional proses pembangunan ekonomi nasional dapat dijalankan. Pertumbuhan dan pemerataan pembangunan ekonomi juga disandarkan pada pendekatan ini. Stabilitas nasional sebagai doktrin utama diartikan sebagai keadaan tanpa perbedaan pandangan politik dan oposisi. Untuk mendukung ideologi pembangunan ini, berbagai lembaga intelijen di era Orde Baru dibekali kewenangan untuk melakukan pengawasan, pemantauan dan penangkapan terhadap pihak dan kelompok yang dipandang dapat membahayakan dan mensabotase program pembangunan nasional.

Era 1970-an adalah saat dimana pemerintahan Orde Baru berhasil mematangkan konsolidasi politik. Di masa itulah Presiden Soeharto memberikan tongkat kepemimpinan lembaga intelijen kepada Letnan Jenderal Sutopo Yuwono. Dan di luar itu, masih ada sejumlah lembaga yang juga memiliki peran dan kewenangan yang sama dengan Bakin. Sebut saja, Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda) dan Kepala Sosial Politik Daerah (Kasospolda) dari jalur militer dan sipil yang dalam hal ini dimotori Departemen Dalam Negeri.

Namun konsolidasi politik yang terbilang matang di era 1970-an tidak secara otomatis melenyapkan tradisi rivalitas di lembaga intelijen. Pertarungan elit lembaga intelijen, seperti yang terjadi antara Sutopo Yuwono dan Ali Moertopo, yang juga merupakan orang kepercayaan Presiden Soeharto, telah melahirkan krisis politik di dalam negeri yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Malari 1974. Peristiwa ini telah mencoreng wajah stabilitas nasional Indonesia yang tengah menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka yang diperkirakan akan membawa aliran modal investasi dalam jumlah yang tak sedikit. Kisruh di tingkat elit itu pada akhirnya mengembalikan Yoga Sugama ke komunitas intelijen untuk menggantikan Sutopo Yuwono.

Wirawan mencatat bahwa di akhir 1980-an pemerintahan Orde Baru berniat mengubah watak dan karakter lembaga intelijen nasional. Kopkamtib yang kaku dan cenderung menggunakan pendekatan represif hendak digantikan dengan sebuah lembaga intelijen baru yang didesain lebih fleksibel dan mengedepankan pendekatan persuasif. Lembaga baru ini adalah Badan Koordinasi dan Stabilisasi Nasional (Bakorstanas), dibentuk tahun 1988 dan dipimpin Jenderal Try Sutrisno. Namun keinginan untuk mengubah watak dan karakter lembaga intelijen tampaknya masih sulit untuk dilakukan oleh Bakorstanas. Setidaknya, dari nama lembaga tersebut sudah terbayangkan bahwa pendekatan utama yang digunakannya dalam operasi intelijen adalah pendekatan keamanan untuk menciptakan stabilitas nasional. Selain itu, pada praktiknya lembaga ini juga menjalin kerjasama yang erat dengan lembaga intelijen lain yang juga kaku dan menggunakan pendekatan represif, seperti Bakin dan Badan Intelijen Strategis (Bais) ABRI yang dipimpin Jenderal LB Moerdani, juga lembaga intelijen yang ada di Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan.

Secara singkat, babak intelijen pembangunan yang dikembangkan oleh pemerintahan Orde Baru mengandaikan bahwa stabilitas keamanan nasional merupakan syarat mutlak dan pintu masuk tunggal untuk mencapai pembangunan nasional dan, pada gilirannya, mensejahterakan rakyat. Stabilitas nasional ini juga dipandang sebagai resep jitu yang dapat menekan berbagai suara sumbang yang dapat mengganggu jalannya pembangunan.

Pada bagian lain, bagi kelompok masyarakat sipil, model pendekatan pembangunan ini dikecam karena karakter kaku dan represifnya telah memakan banyak korban, korban-korban yang atas nama pembangunan justru terpinggirkan dan termiskinkan, dan ironisnya tidak dapat berkata apa-apa.

sumber : http://teguhtimur.com/2009/10/26/intelijen-indonesia-dari-masa-ke-masa/




Cyber Warfare


Oleh: Kol Lek Noor Pramadi, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

Jaringan Internet adalah jalinan/rangkaian berjuta-juta komputer yang terhubung dalam satu sistem komunikasi, dengan demikian sistem internet  ini adalah sistem yang bersifat global/mendunia dan tidak mengenal batas wilayah dan Negara.   Suatu saat  yang tidak terlalu lama lagi kebutuhan masyarakat terhadap internet sebagaimana kebutuhan masyarakat terhadap BBM, listrik, angkutan, dan sembako serta kebutuhan pokok masyarakat lainnya.   Dengan demikian kebutuhan terhadap layanan internet akan menjadi suatu kebutuhan pokok sehari-hari dalam berbagai segi kehidupan masyarakat, oleh karena itu pemerintah seharusnya berkepentingan dan perlu melindunginya.
Sejarah Internet
Internet pertama kali berkembang pada tahun 1969 melalui Proyek APRANET (Advanced Research Project Agency Network).   Pada saat itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat membuktikan/mendemonstrasikan bahwa dengan Hardware dan Software berbasis Unix kita dapat berkomunikasi jarak jauh dengan memanfaatkan kabel telepon.  Proyek ARPANET inilah yang menjadi cikal bakal TCP/IP.    Pada awalnya, Internet dipakai pertama kali untuk keperluan militer, namun dengan semakin pesat perkembangannya terlebih setelah ditemukannya aplikasi WWW (World Wide Web) perkembangan internet dunia semakin maju.
Internet tidak lagi hanya menjadi monopoli militer dan akademis semata, namun sudah meluas ke segala kalangan masyarakat hingga sekarang.
Di Era Modern awal abad 21 (1990-an), ekspansi besar-besaran internet dilakukan. Jarak antara bagian dunia yang satu dengan yang lain semakin menyempit, terlebih dengan telah digunakannya fiber optic secara global.   Kita dapat memperoleh informasi bahkan lebih cepat daripada berita di televisi.    Mudahnya memperoleh informasi dan kemudahan mengakses internet ini berpengaruh secara luas bagi perkembangan baik ilmu pengetahuan maupun peradaban.
Pengguna internet
Kemajuan yang pesat dibidang informasi sejalan dengan perkembangan teknologi pendukungnya.   Perubahan wajah website/web page yang dahulu sangat sederhana dan hanya berbasis HTML kini semakin interaktif dan atraktif dengan dukungan berbagai bahasa pemrograman berbasis web yang dapat berinteraksi dengan baik dengan HTML.   Tentunya kita sanagat mengenal PHP, ASP, VBNet, MySQL, Oracle dll yang semuanya menjadi pelopor perkembangan internet dunia kearah yang lebih baik.    Dengan perkembangan internet dunia yang begitu pesat telah merubah pula kebudayaan.   Orang-orang tak perlu lagi harus bersabar menunggu korannya datang kerumah karena sekarang ada e-paper. Bahkan untuk membeli peralatan rumah tanggapun sekarang dapat dilakukan sambil duduk. Kita memang harus bersyukur dengan perkembangan informasi yang begitu cepat.
Internet telah digunakan di bidang pendidikan, bisnis dan perdagangan, perkantoran, pemerintahan, pertahanan, kepolisian, kesehatan, industri, dan  hampir  tidak ada bidang kehidupan masyarakat saat ini yang tidak memanfaatkan fasilitas internet.    Semakin maju suatu Negara, maka semakin banyak bidang dan warganya yang memanfaakan fasilitas internet.   Gangguan yang terjadi dalam sistem internet akan melemahkan sendi-sendi kehidupan suatu negara karena internet telah digunakan oleh seluruh bidang kehidupan masyarakat, terlepas gangguan tersebut karena bencana alam atau gangguan oleh ulah manusia/perorangan atau ulah korporasi/negara.
Cyber Warfare
Cyber warfare, (juga dikenal sebagai cyberwar dan Cyberwarfare), adalah perang dengan menggunakan jaringan komputer dan Internet di dunia maya (cyber space) dalam bentuk pertahanan dan penyerangan informasi.    Cyber warfare juga dikenal sebagai perang cyber mengacu pada penggunaan world wide web dan komputer untuk melakukan perang di dunia maya.   Walaupun terkadang relatif minimal dan ringan,  sejauh ini perang cyber berpotensi menyebabkan kehilangan secara serius dalam sistem data dan informasi, kegiatan militer dan gangguan layanan lainnya, cyber warfare berarti dapat menimbulkan seperti risiko bencana di seluruh dunia.
Cyber Warfare menurut para pengamat computer global telah dimulai pada tahun 1991, namun sifatnya masih terbatas.    Pada akhir-akhir ini taktik penyerangan melalui cyber telah berkembang terus dengan skala yang semakin besar.   Dibawah ini terlihat kronologis kejadian cyber warfare yang terjadi diberbagai negara sampai dengan Januari 2010.
  • Pada tahun 1991, seseorang di angkatan udara melaporkan adanya virus komputer yang bernama AF/91,  virus tersebut diciptakan dan telah terinstal pada chip printer dan membuat jalan ke Irak melalui Amman, Yordania.   Tugasnya adalah untuk membuat kerusakan senjata anti-pesawat Irak.
  • Pada tahun 1998, agar AS dan NATO sukses mengebom target Serbia di Kosovo, Amerika Serikat perlu mengelabui dan mengganggu sistem pertahanan udara Serbia dan Serbia Air Traffic Controller.     AS sukses dengan baik mencapai tujuannya, sehingga ada kekhawatiran AS melanjutkan atau meningkat seranganya.    Namun ternyata AS tidak ingin kembali ke Serbia lebih lanjut karena takut akan merusak sasaran sipil.
  • Amerika Serikat telah diserang (09/1999) dari jaringan komputer yang terletak di Cina dan Rusia.
  • Pada tahun 2007, pemerintah Amerika Serikat mengalami “suatu spionase Pearl Harbor” di mana “kekuatan asing yang tidak diketahui  masuk ke semua badan teknologi tinggi, semua lembaga militer, dan me-download informasi/data sampai dengan terabyte.”
  • Pada 17 Mei 2007 Estonia mendapat serangan cyber,  Parlemen, kementerian, bank, dan media Estonia menjadi sasaran.
  • Pada 14 Desember 2007, website KPU Pusat Kirgiz itu dirusak selama pemilihan.   Pesan yang ditinggalkan di website terbaca “Situs ini telah di-hacked oleh Dream of Estonia organisasi”.   Selama kampanye pemilu dan kerusuhan sebelum pemilu, ada kasus Denial of Service serangan terhadap ISP Kirgiz.
  • Situs Georgia dan Azerbaijan diserang oleh hacker selama Perang Ossetia Selatan 2008. Akhir pekan (20/7/2008) website pemerintah Georgia lumpuh oleh serangan distributed denial of service (DDoS).   Situs resmi presiden Georgia, Mikheil Saakashvili, diserang pada hari Sabtu dan Minggu.   Serangan itu diketahui pada Sabtu pagi dan kemudian berlanjut sampai hari Minggu.   Para pengamat keamanan internet Georgia belum bisa memastikan sumber serangan tersebut, namun bukti awal merujuk kepada negara tetangga mereka yaitu Rusia.   Salah satu pengamat, Jose Nazario, melaporkan salah satu pesan dalam paket data yang dikirim secara besar-besaran itu terbaca sebagai “win+love+in+Russia”, software pengontrol botnet yang digunakan dalam penyerangan itu dikaitkan dengan botnet milik Rusia.
  • Pada 28 Maret 2009, sebuah jaringan mata-mata cyber, dijuluki GhostNet, terutama dengan menggunakan server berbasis di Cina telah menyadap dokumen rahasia dari pemerintah dan organisasi swasta di 103 negara, termasuk komputer dari Tibet di pengasingan, tetapi Cina menyangkal klaim tersebut.
  • Pada Juli 2009, ada serangkaian serangan besar cyber yang terkoordinasi terhadap pemerintah, media massa, dan situs keuangan di Korea Selatan dan Amerika Serikat.    Minggu yang buruk untuk Korea Selatan, karena adanya serangan cyber, yang dipercaya berasal dari 16 negara yang berbeda.   Hal tersebut disampiakan oleh agen mata-mata Seoul, Jumat (10/7/2009) ini, seperti yang dilansir dari Ciol.com.  Menurut National Intelligence Service (NIS), serangan diketahui dari hasil pelacakan 86 alamat protocol Internet dari 16 negara, termasuk United States, Jepang dan China.    Sementara pihak Korea Utara, memberikan konfirmasi dari NIS bahwa Korea Utara tidak termasuk dalam 16 negara yang telah menyerang Korea Selatan.     Sedangkan menurut agen mata-mata Korea Selatan, yang dilansir dari Ciol.com, terungkap bahwa komite parlement percaya bahwa komunis Utara atau simpatisannya mungkin yang berada di balik cyber attack website pemerintah Korea Selatan.
  • Situs-situs jaringan sosial terkemuka seperti Twitter, Facebook, dan Livejournal lumpuh selama beberapa jam, Kamis (6/8/2009), akibat serangan DDoS (distributeed denial of sevice). Serangan ini dilakukan “zombie-zombie internet” atau disebut botnet yang selama ini sudah menginfeksi ribuan bahkan mungkin jutaan komputer pribadi dan kantor di seluruh dunia.   Pelaku serangan telah memerintah botnet-botnet yang dipeliharanya secara diam-diam untuk membanjiri akses ke situs-situs tersebut secara serentak.  Akibatnya, tak kurang dari 300 juta pengguna Twitter, Facebook, dan Livejournal tidak dapat mengakses akibat trafik yang terlalu tinggi bahkan membuat server down.
Twitter mengalami kelumpuhan sekitar tiga jam akibat serangan yang terjadi sejak pukul 23.00 WIB. Selama tiga jam itu, sekitar 35 juta pengguna Twitter tak dapat mengirim pesan apapun.    Facebook melaporkan gangguan yang sama dialami sekitar 250 juta pengguna. Sedangkan Livejournal melaporkan gangguan pada 21 juta penggunanya.    “Ini benar-benar serangan yang sangat mematikan,” ujar Stephen Tanase, analis senior dari Kaspersky seperti dikutip dari USA Today.  Tidak ada serangan sebesar itu yang terjadi lagi sejak Februari 2000.   Saat itu, seorang bocah berusia 15 tahun yang menamakan dirinya Mafiaboy memerintahkan botnet-botnet untuk melumpuhkan Yahoo, eBay, Amazon, Etrade, ZDnet, dan CNN.
  • Pada bulan Desember 2009, sebuah serangan cyber, disebut Operasi Aurora, diluncurkan dari Cina terhadap Google dan lebih dari 20 perusahaan lain.
  • Mesin pencari tersohor di China, Baidu.com dibobol pada 12 Januari 2010 lalu.      Baidu.com tidak bisa beroperasi selama beberapa jam dan para pengunjung di re-direct ke sebuah situs lain.   Sebuah grup yang menamakan dirinya ‘Iranian Cyber Army’ mengklaim merekalah yang bertanggung jawab terhadap aksi itu.

Jika diperhatikan fakta data diatas menunjukkan trend bahwa cyber warfare meskipun telah dimulai pada tahun 1991,  namun intensitasnya meningkat secara dramatis sejak 2007-2010 ini.    Kondisi ini menunjukka era cyber warfare sudah dimulai, apakah kita menunggu sistem internet kita berhenti karena diserang.
Mandala Perang Baru “Cyber Warfare”
Kenyataan bahwa cyber warfare menjadi mandala perang baru sudah didepan kita semua.    Penyerangan secara terbatas telah terjadi berkali-kali oleh beberapa negara, kondisi ini dapat  juga diasumsikan sebagai uji coba, namun peperangan yang sesungguhnya dan jauh lebih besar telah dipersiapkan.   Daftar trend ancaman serangan cyber disajikan dalam urutan kecanggihan, dan sesuai dengan urutan kronologis kejadian pada  jaringan komputer yang digunakan antara tahun 1990-an sampai 2008.
  • Internet social engineering attacks.
  • Network sniffers.
  • Packet spoofing.
  • Hijacking sessions.
  • Automated probes and scans.
  • GUI intruder tools.
  • Automated widespread attacks.
  • Widespread denial-of-service attacks.
  • Executable code attacks (against browsers).
  • Techniques to analyse code with Vulnerabilities without source.
  • Widespread attacks on DNS infrastructure.
  • Widespread attacks using NNTP to distribute attack.
  • “Stealth” and other advanced scanning techniques.
  • Windows-based remote controllable Trojans (Back Orifice).
  • Email propagation of malicious code.
  • Wide-scale Trojan distribution.
  • Distributed attack tools.
  • Distributed denial of service (DDoS) attacks.
  • Targeting of specific users.
  • Anti-forensic techniques
  • Wide-scale use of worms.
  • Sophisticated command and control attacks.
Trend ancaman serangan cyber akan berkembang terus sesuai perkembangan teknologi informasi, oleh karenanya perlu melakukan riset terus-menerus untuk mampu mengatasi berbagai teknik, taktik dan, strategi penyerangan cyber yang akan terus berkembang.
Menghadapi “Cyber Warfare”
Sistem internet secara strategis bersifat sangat rentan terhadap gangguan/serangan, namun merupakan investasi yang menarik (high return) dan diperlukan dalam berbagai bidang kehidupan, sangat sulit mempertahankan diri dari serangan/gangguan (perlu persiapan, kewaspadaan dan pertahanan berlapis), penyerangan dapat dilakukan dari negara ketiga/lain, dan dapat dilakukan oleh non-state aktor.   Adapun taktik dan strategi yang digunakan dapat berupa sp
Menghadapi era Cyber Warfare yang sudah didepan mata, maka tidak tepat jika pemerintah melepas begitu saja kepada kemampuan mekanisme pasar, namun pemerintah perlu memikirkan dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk melindungi pengguna internet dalam negeri.    Infrastruktur berupa fasilitas komputer super, media broadband dan sumber daya manusia yang mumpuni perlu disiapkan oleh pemerintah, jika tidak ingin sistem internet dan ethernet nasional dikacaukan oleh pihak lain pada suatu saat.  Cyber warfare tidak hanya terbatas pada kelompok orang berseragam (militer), cyber warfare  bisa dalam bentuk kecil dalam suatu negara atau antarnegara.  Di sinilah perlunya awareness nasional harus disebarluaskan dan ditumbuhkan.
US sebagai negara yang memiliki kemampuan finansial dan menguasai teknologi tinggi, telah mempersiapkan diri menghadapi  cyber warfare dengan membangun (infrastruktur) dalam jumlah banyak komputer super berkemampuan sangat tinggi, media braodband (fiber optic, satelit) dan menyiapkan sumber daya manusia (SDM berkualitas).    Mungkin US dapat dijadikan sebagai rujukan untuk mengembangkan kemampuan.   Hasil test terakhir lima besar komputer super berkemampuan sangat  tinggi dengan Rmax dan Rpeak yang dinilai dengan ukuran Tera Flops/ 1012 Flops (FLoating point Operations Per Second), nomor 1 sampai 3 diduduki komputer US.     Power data diukur dalam KW untuk seluruh sistem.


Minggu, 07 Maret 2010

Anggota Intelligence Community


IC yang terdiri dari 16 anggota (juga disebut elemen). Central Intelligence Agency (CIA) merupakan lembaga independen dari pemerintah Amerika. 15 unsur yang lain adalah kantor-kantor atau biro dalam departemen eksekutif federal. yang dipimpin oleh the Office of the Director of National Intelligence (ODNI), Badan Intelijen Nasional yang secara resmi tidak terdaftar sebagai anggota dari komunitas ini;

* Lembaga independen
o Central Intelligence Agency (CIA)

* Departemen Pertahanan Amerika Serikat
o Air Force Intelligence, Surveillance and Reconnaissance Agency (AF ISR atau AIA)
o Army Military Intelligence (MI)
o Defense Intelligence Agency (DIA)
o Marine Corps Intelligence Activity (MCIA)
o National Geospatial-Intelligence Agency (NGA)
o National Reconnaissance Office (NRO)
o National Security Agency (NSA)
o Office of Naval Intelligence (ONI)

* Departemen Energi Amerika Serikat
o Office of Intelligence and Counterintelligence (OICI)

* Departemen Keamanan Dalam negeri Amerika Serikat
o Office of Intelligence and Analysis (I&A)
o Coast Guard Intelligence (CGI)

* Departemen Kehakiman Amerika Serikat
o Federal Bureau of Investigation (FBI)
o Drug Enforcement Administration (DEA)

* Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat
o Bureau of Intelligence and Research (INR)

* Departemen Keuangan Amerika Serikat
o Office of Terrorism and Financial Intelligence (TFI)[3]
sumber : wikipedia




Strategi Baru Intelijen Amerika Serikat

Masalah politik, militer, dan intelijen yang lebih kompleks daripada upaya pemurtadan anak-anak Aceh korban gempa-tsunami telah hadir di depan mata. Betapa tidak, tim-tim kecil intelijen-militer Amerika Serikat (AS) telah beroperasi di berbagai negara selama dua tahun terakhir, termasuk di negara-negara sahabat AS. Bahkan, itu sangat mungkin juga di Indonesia karena pernah dibahas dalam memo resmi pejabat tertinggi militer AS. Yang lebih menyentakkan adalah upaya perekrutan para tokoh yang terkenal tidak terhormat (notorious figures) yang memiliki hubungan dengan pemerintah AS.

Adalah harian terkemuka terbitan AS, The Washington Post (WP), edisi 23 Januari 2005 yang memuat berita tersebut jauh lebih detil dari running news sebelumnya tentang bagaimana menyinergikan operasi militer dan intelijen di saat AS merasa kinerja intelijennya tidak memadai. Secara singkat, berita itu juga ditulis New York Times (NYT) pada tanggal yang sama tentang operasi satuan komando AS.

Bagaimana pun, berita yang digali khusus dan disajikan pertama kali secara eksklusif oleh WP tadi makin memerinci perubahan strategi operasi intelijen dan militer AS di dunia Muslim. Intinya, mereka berupaya memperkuat sisi intelijen yang dilakukan langsung oleh manusia (human intelligent) dan tidak lagi menggantungkan pada data dan informasi dari satelit dan pesawat mata-mata, termasuk segala alat telekomunikasi semacam telepon, faksimile, dan surat elektronik, yang biasa disebut signal intelligent.

Human intelligent misalnya didapatkan dari hasil interogasi seorang tahanan atau perekrutan orang-orang menjadi para agen intelijen, terlepas mereka sadar atau tidak telah menjadi agen. Selain itu, AS dipastikan akan mencoba menggalang jaringan intelijen lokal dan upaya mengakses langsung sistem data dasar negara-negara lain, yang selama ini agaknya menjadi sebagian kelemahan AS.

Indonesia negara target

imageTim-tim kecil yang dikendalikan Departemen Pertahanan dan Gabungan Kepala Staf AS itu berintikan pasukan khusus (special forces) semacam Delta Force Angkatan Darat (AD) AS dan skuadron ahli elektronik AD AS yang bernama sandi Gray Fox; unit intelijen Angkatan Udara dan pasukan istimewa Angkatan Laut AS, SEAL Tim Six, yang pernah sukses menculik Presiden Panama (saat itu) Manuel Antonio Noriega. Tim juga berisikan para mata-mata resmi (case officers), penerjemah, penginterogasi dan ahli-ahli teknis.

Mereka telah beroperasi selama dua tahun terakhir di Irak, Afghanistan, dan tempat-tempat lain, termasuk di negara-negara sahabat AS. Ini tidak dibantah tegas oleh seorang pejabat tinggi Dephan AS. Sumber-sumber konfidensial WP, baik dari empat anggota pasukan khusus AS sebagai sumber awal berita, beberapa pejabat Dephan maupun Gabungan Kepala Staf menolak menyebutkan negeri-negeri lain itu. Namun, memo Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal AU Richard Myers kepada Menhan Donald Rumsfeld beberapa waktu lalu menyebutkan adanya emerging target countries, yakni Somalia, Yaman, Indonesia, Filipina dan Georgia.

Adapun sumber utama berita NYT tentang operasi satuan komando AS adalah dari buku terbaru berjudul Code Names: Dechipering US Military Plans, Programs and Operation in the 9/11 World yang ditulis seorang mantan analis intelijen AD AS. Buku itu tidak hanya menjelaskan nama-nama sandi operasi militer dan intelijen AS sebagai respons serangan 11 September, tapi juga mengakui keberadaan tim-tim tadi. Yang pasti, tidak ada bantahan apa pun dari para pejabat dan jenderal AS, meski tentu saja mereka enggan membenarkannya secara eksplisit. Jadi, berita ini lebih kuat daripada berita WP edisi 13 Januari 2005 tentang misionaris yang telah memindahkan 300 anak yatim Aceh untuk dikristenkan, meski berita ini juga tidak terbukti salah. Apalagi, pemberitaan seputar operasi sangat rahasia itu juga muncul di situs-situs lain, termasuk situs pemerintah dan militer AS, selama berbulan-bulan.

Bagi Indonesia, situasi penanganan pascabencana di Aceh mempersulit upaya mengantisipasi perubahan strategi AS ini. Sebagai indikasi, dalam Rapat Kerja dengan Komisi I DPR RI tanggal 20 Januari 2005 Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menyampaikan jumlah tentara AS yang tercatat melakukan misi kemanusiaan adalah 36 orang, atau yang terkecil dari semua pasukan asing. Padahal, sumber resmi AL AS yang dikutip kantor berita Associated Press (9 Januari 2005) menyatakan, sekitar 13 ribu aparat AS berada di Indonesia dan lautan di sekitarnya. Bahkan, harian Los Angeles Times pada tanggal yang sama menulis, sekitar 13.000 personel militer AS, dilengkapi 20 kapal perang dan 90 pesawat tempur telah ditugaskan untuk memberikan bantuan. Berita ini bersumber dari pernyataan Letjen Robert Blackman, pimpinan misi kemanusiaan AS. Apakah ini berarti hanya 36 orang serdadu AS yang melakukan misi kemanusiaan, sementara selebihnya melakukan apa saja yang bisa dilakukan sebagai serdadu bersenjata lengkap?

Apalagi, Deputi Menhan AS Paul Wolfowitz telah melobi langsung pimpinan TNI dan negara Indonesia ketika dimunculkan adanya tenggat waktu keberadaan mereka di Aceh dan sekitarnya. Bahkan, Wolfowitz sampai merasa perlu menyebutkan latar belakang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah belajar di akademi-akademi militer AS untuk melemahkan sikap pembatasan eksistensi militer asing serta pembukaan relasi militer AS dengan TNI. Hal ini menyudutkan posisi SBY karena bisa saja dikhawatirkan secara perlahan-lahan dimanfaatkan (direkrut) AS, entah disadarinya atau tidak. Bagaimanapun, sikap SBY yang seakan terlalu percaya dan kurang waspada bisa melemahkan daya cegah dan tangkal terhadap operasi sangat rahasia militer-intelijen AS.

Kontra-intelijen

Pergantian personil AS yang bertugas dari militer menjadi relawan sipil dan LSM tidaklah meredakan operasi militer-intelijen AS itu. Telah diketahui banyak aparat CIA dan pasukan khusus AS yang menyamar tidak lagi sebatas sebagai diplomat, konsul, atau aparat di Deplu dan kedubes-kedubes AS, termasuk atase militer AS yang secara pasti merangkap sebagai petugas intelijen AS. Sumber terpercaya WP dari pasukan khusus AS bahkan menyatakan segera dioperasikan aparat di luar lembaga resmi. Mereka akan memakai nama dan kewarganegaraan palsu. Ini mirip dengan Dinas Intelijen Luar Negeri Israel, Mossad, sebagaimana dipaparkan Victor Ostrovsky dalam buku populernya By Way of Deception.

Yang pasti, sebagai suatu contoh, keberadaan World Food Programme, suatu Badan PBB yang pernah menyalurkan ''bantuan'' pangan di Timor Timur, telah membantu menyukseskan operasi intelijen memisahkan Timor Timur dengan Indonesia. Kini, mereka kembali beroperasi di Aceh dan Nias. Meski separatisme belum tentu tujuan utama, itu tidak berarti aparat intelijen dan pasukan khusus AS tidak mungkin mengulangi perbuatannya bersama dengan sekutunya semacam Australia dan Inggris. Apalagi, KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu pernah menyatakan ada sekitar 60 ribu agen intelijen asing di sini.

Logika Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) Syamsir Siregar yang disampaikannya pada Rapat Kerja dengan Komisi I DPR 20 Januari juga tepat. Namun, seyogiayanya selaku bos intelijen yang mempunyai kewenangan dan kekuatan beliau mampu menyampaikan bukti-bukti nyata. Selain itu, melakukan operasi kontra-intelijen dan pencegahan perekrutan orang-orang Indonesia sebagai agen intelijen asing yang mayoritas di antaranya mungkin tidak menyadarinya.

Yang kian mengkhawatirkan adalah operasi-operasi tadi bukan saja dirahasiakan dari publik dan pemerintah negara sasaran, tapi juga terhadap parlemen dan rakyat AS. Padahal, Komite Intelijen di Kongres (Majelis Rendah AS) dan Senat (Majelis Tinggi AS), juga sidang paripurna dan pimpinan dua partai terbesar di parlemen (Partai Republik dan Domkrat) berhak mengetahuinya serta membahas anggarannya.

Konstitusi AS mewajibkan semua pengerahan pasukan harus dilaporkan ke Kongres, seperti tujuan dan perintah-perintah umum kepada para prajurit. Selain itu, hanya aktifitas intelijen yang secara tradisi dilakukan militer (misal, data jumlah tank musuh dalam suatu perang) serta kegiatan rutin intelijen yang tidak boleh disampaikan kepada parlemen AS. Namun, Rumsfeld, Wolfowitz dan semua kaum neo-konservatif AS berupaya membelokkan ketentuan-ketentuan tadi.

Masalahnya, keberadaan dan pengaruh kaum neo-konservatif bukan lagi sebatas wacana dan analisis, melainkan fakta nyata, bahkan disengaja dimunculkan lebih eksplisit dan lebih menantang. Periode kedua pemerintahan Presiden AS George W Bush dan Wapres Dick Cheney tidaklah mereduksi segala cara nista yang telah mereka tempuh di Afghanistan, Irak, Palestina, Uzbekistan, Yaman, Filipina dan tentu saja, Indonesia. Bahkan, seperti terbaca dalam teks lengkap pidato pelantikan Bush tanggal 20 Januari 2005, mereka kian agresif.

Terlalu sulit membayangkan kerusakan dunia yang akan terjadi, terutama di dunia Muslim termasuk negeri tercinta karena kaum neo-konservatif sangat ingin AS memimpin dunia dan melenyapkan ideologi, agama dan sistem hidup yang dianggap bisa menghentikan imperialisme mereka. Namun, kesatuan pemimpin dan umat Muslim akan mendatangkan pertolongan Allah SWT yang bukan saja Maha Kuasa menolong orang ketikabencana gempa-tsunami, tapi juga di segala kesempatan dan aspek kehidupan. (RioL)

sumber
Oleh : Fahmi AP Pane
Pengamat Masalah Politik



DINAS INTELIJEN AMERIKA a.k.a CIA

CIA (Central Intelligence Agency) ialah dinas rahasia pemerintah Amerika Serikat. Dibentuk pada 18 September 1947 dengan penandatanganan NSA (National Security Act) -- badan keamanan nasional AS -- oleh Presiden Harry S. Truman. Saat itu, yang menjadi orang nomor satu dalam CIA ialah Letnan Jenderal Hoyt S. Vandenberg. NSA sendiri sudah berganti nama menjadi DCI (Director of Centeral Intelligence), yang mengkoordinasi, mengevaluasi, mengkorelasi, dan mengirim para agen CIA termasuk ke luar AS untuk menjaga keamanan nasional. Kini CIA dipimpin oleh Porter J. Goss.

Pada era Perang Dingin dengan Uni Soviet, tugas-tugas CIA lebih banyak diarahkan pada kontra-intelijen. Kini, CIA juga mulai menangani peredaran narkotika, organisasi kejahatan internasional, perdagangan senjata gelap, dan yang paling hangat ialah kontra-teroris. Yang terakhir ini ialah terutama setelah serangan 11 September 2001 yang menghancurkan gedung World Trade Center.

CIA membekali para agennya dengan spy-kits, di tangan Direktorat Sains dan Teknologi. Berbagai peralatan canggih yang pernah dipakai CIA pada masa awal kelahirannya sampai era Perang Dingin disimpan di museum CIA di McLean, negara bagian Virginia. Seperti uang sedolar yang bisa menjadi ‘kontainer’ dokumen dan mesin, mesin pemecah kode bernama Enigma yang disetting untuk memberikan 150.000.000.000.000.000.000 jawaban, mikrodot kamera yang hanya bisa dibaca di bawah mikroskop. Itulah sebagian peralatan intelijen yang dipakai antara 1950-1960-an.
Wikisumber memiliki naskah atau teks asli yang berkaitan dengan:
National Security Archive

Salah satu operasi CIA yang berhasil ialah menjatuhkan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Ironisnya, putri Soekarno, Megawati Soekarnoputri juga naik menjadi presiden dengan dukungan AS.

CIA juga ditengarai selain menggulingkan Soekarno juga berada di belakang pembantaian anggota dan mereka yang dituduh sebagai anggota PKI, terutama di Jawa dan Bali setelah tahun 1965.

CIA dan Perang Irak 2003

Pada awal Februari 2003, Colin Powell, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan AS, berbicara di hadapan PBB untuk meyakinkan negara-negara anggota lembaga dunia itu tentang ancaman bahaya "senjata pemusnah massal" yang konon dimiliki atau sedang dibangun oleh Irak.

Namun setelah perang berlangsung berlarut-larut, sementara korban tentara yang tewas dan luka-luka di pihak AS tidak berhenti ataupun berkurang, rakyat AS mulai meragukan klaim yang diajukan Presiden Bush sebagai alasan untuk menyerang Irak. Sebaliknya, Bush dan kawan-kawan mempersalahkan CIA dan mengatakan bahwa badan intelijen itu telah memberikan informasi yang keliru.

Ironisnya, George Tenet, Direktur CIA pada masa Perang Irak 2003, justru dianugerahi "Medali Kemerdekaan Kepresidenan" oleh Presiden George W. Bush pada 14 Desember 2004, setelah sebelumnya ia mengundurkan diri dari jabatannya (Juni 2004). Ini adalah anugerah tertinggi untuk sipil di AS sebagai tanda bahwa si penerima telah membuat "sumbangan yang sangat istimewa bagi keamanan atau kepentingan nasional Amerika Serikat, atau bagi dunia, atau bagi kebudayaan ataupun upaya-upaya publik atau swasta lainnya yang penting."

Penjara rahasia CIA

Seorang wartawati The Washington Post melaporkan pada 2 November 2005 bahwa "CIA telah menyembunyikan dan menginterogasi beberapa dari tawanan terpenting mereka yang dituduh terlibat Al Qaeda di sebuah kompleks di negara Eropa Timur, menurut pejabat-pejabat AS dan asing yang mengetahui pengaturan ini." [1]

Laporan ini menyatakan bahwa CIA mempunyai sebuah sistem penjara rahasia di seluruh dunia yang bertempat di Asia, Eropa Timur, dan di Teluk Guantanamo di Kuba. Sistem ini memainkan peranan penting dalam peranan anti-teror organisasi ini. Menurut laporan tersebut, sistem ini telah dirahasiakan dari para pejabat pemerintah (termasuk komisi-komisi Kongres yang mengawasi CIA) melalui upaya-upaya organisasi itu sendiri maupun melalui kerja sama dengan biro-biro intelijen asing.

Laporan Priest berlanjut:

"Keberadaan dan lokasi fasilitas-fasilitas ini -- yang disebut "tempat-tempat hitam" dalam dokumen-dokumen rahasia Gedung Putih, CIA, Departemen Kehakiman dan Kongres -- hanya diketahui oleh segelintir pejabat di AS dan, biasanya, hanya oleh presiden dan segelitinr perwira intelijen puncak di masing-masing negara tuan rumah... Fasilitas rahasia ini merupakan bagian dari sebuah sistem penjara rahasia yang dibangun oleh CIA hampir empat tahun lalu yang pada berbagai kesempatan mencakup pula tempat-tempat di delapan negara, termasuk Thailand, Afganistan serta sejumlah negara demokrasi di Eropa Timur, serta sebuah pusat kecil di penjara Teluk Guantanamo di Kuba, menurut pejabat-pejabat intel dan diplomat sekarang maupun yang alu dari tiga benua."

BBC telah menindak-lanjuti laporan-laporan ini dan mengukuhkan bahwa ada bukti-bukti yang layak dipercaya tentang penjara-penjara rahasia ini.

Trent Lott juga tampaknya telah menegaskan kehadiran penjara-penjara ini.

Pada 8 November 2005 Pemimpin Mayoritas Senat Bill Frist dan Ketua Dewan Perwakilan Dennis Hastert, lewat sebuah surat, menuntut diadakannya penyelidikan bersama oleh Komisi intelijen Senat dan Dewan Perwakilan atas kebocoran berita tentang fasilitas-fasilitas rahasia CIA ini. Dalam surat mereka (bila memang laporan Post itu benar) "pembocoran yang sangat buruk ini dapat membawa akibat-akibat yang merusak dan berbahaya jauh ke depan, dan akan membahayakan upaya-upaya kita untuk melindungi bangsa Amerika dan negara kita dari serangan-serangan teroris."

Surat itu selanjutnya mengatakan: "Apakah kerusakan yang sesungguhnya dan yang potensial terhadap keamanan nasional AS dan mitra-mitra kita dalam perang global melawan teror?"

Senator Republikan Lindsey O. Graham menuduh Pemimpin Mayoritas Senat Bill Frist dan Ketua Dewan J. Dennis Hastert telah mengalihkan perhatian pada investigasi tentang mengapa penjara-penjara rahasia ini ada kepada bagaimana informasi tentang tempat-tempat itu dibocorkan kepada umum.

Spanyol sedang menyelidiki tuduhan-tuduhan bahwa CIA menggunakan lapangan terbang Palma untuk mentransfer tawanan tanpa izin

Pada Desember 2005, ABC News melaporkan bahwa sejumlah bekas agen CIA menyatakan bahwa CIA telah menggunakan waterboarding, bersama-sama dengan lima "Teknik Interogasi yang Diperkuat," terhadap mereka yang dicurigai menjadi anggota Al Qaeda yang ditawan di penjara-penjara rahasia.

Waterboarding secara luas dianggap sebagai suatu bentuk penyiksaan, meskipun ada laporan-laporan yang menyatakan bahwa Presiden Bush menandatangani suatu "penemuan" rahasia bahwa praktek itu tidak termasuk penyiksaan, dan karena itu mengizinkan penggunaannya. Pada 13 Desember, Dick Marty, yang menyelidiki aktivitas ilegal CIA di Eropa atas nama Dewan Eropa melaporkan bukti yang menunjukkan bahwa "sejumlah orang telah diculik dan dipindahkan ke negara-negara lain tanpa peduli tentang standar hukumnya." Pada sebuah konferensi pers, Marty mengatakan bahwa ia yakin bahwa AS telah memindahkan tahanan-tahanannya yang ilegal dari Eropa ke Afrika Utara pada awal November sebagai reaksi atas laporan Washington Post. Wikipedia



Daftar Blog Saya

Entri Populer