Senin, 05 April 2010

Kritik Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN)



sumber : http://intelindonesia.blogspot.com/2010/02/sekolah-tinggi-intelijen-negara.html
Pertama, STIN bagi saya hanya sebuah jalan pintas perbaikan sumber daya insan intelijen yang memiliki berbagai celah yang disebabkan kecerobohan pimpinan dalam memilih proses pembinaan insan intelijen yang cenderung tersentral dan militeristik. Kelemahan yang dihadapi insan intelijen alumni STIN adalah justru karena identitas background pendidikannya dari STIN, selama 4 tahun berada didalam lembaga pendidikan formal setingkat strata I dengan gelar sarjana intelijen, apakah hal ini masuk akal dalam teori-teori dasar intelijen? Saya sungguh-sungguh sangat kasihan dan prihatin dengan gerak langkah adik-adik yang akan sangat berat karena terlalu lama terasingkan dari sistem sosial pendidikan yang wajar misalnya di Universitas umum. Tidak ada satupun lembaga intelijen di dunia yang melakukan kecerobohan sebagaimana di Indonesia dengan proyek STIN. Pada akhir tahun 1970-an saya pernah dilatih CIA dan pada tahun 1980-an saya pernah menyaksikan sistem pendidikan di Mossad, sangat jauh dari apa yang dirancang oleh LetJen (Purn) Hendropriyono yang haus ilmu namun kebablasan karena kurang memperhitungkan masa depan lulusan STIN. Belajar intelijen secara akademik akan selalu bersifat akademik dengan segala metode ilmiahnya, mempraktekan intelijen adalah seperti profesi yang memerlukan latihan, praktek, yang kemudian berproses dalam kematangan profesionalisme. Selamanya seorang insan intelijen bersifat tertutup dengan jutaan cover yang melindunginya, lalu bila kita memperhatikan sarjana intelijen dari lembaga pendidikan yang dikelola oleh lembaga resmi intelijen, dimana letak cover kehidupannya, track recordnya, sejarahnya, dll. sangat sulit bukan? Itulah sebabnya saya kasihan, dan Blog I-I sangat terbuka untuk menolong adik-adik STIN untuk dapat survive di dunia yang kejam, bukan hanya di dalam institusi melainkan di dunia nyata baik di dalam maupun di luar negeri.

Kedua, karena nasi sudah menjadi bubur, dimana STIN sudah berdiri, dikenal luas dan mulai menjadi sasaran cita-cita generasi muda Indonesia karena daya tariknya yang luar biasa, tentunya perlu dipikirkan jalan pembinaan yang meyakinkan untuk menciptakan cover kehidupan yang akan membangun profesionalisme lulusan STIN, sebuah tugas yang tidak mudah. Saya sendiri menduga, betapapun beratnya lulusan STIN untuk membangun kredibilitas jutaan cover kehidupannya, semua akan berpulang kepada individu masing-masing, dengan kata lain jangan mengharapkan institusi akan terus-terusan memfasilitasi proses pengembangan insan intelijen alumni STIN. Akan beruntung apabila adik-adik STIN berada dibawah pembinaan Spy Master yang kaya pengalaman, tetapi bagaimana bila anda jatuh dibawah pembinaan bahkan oleh senior intelijen yang tidak berkualitas....ya saya tegaskan tidak berkualitas. Anda akan hancur dalam singkat, mengalami demoralisasi, menjadi frustasi, dan kecewa dengan kenyataan.





Ketiga, secara kualitas bolehlah saya katakan lulusan SMA yang diterima STIN adalah putra-putri terbaik Indonesia. Kemudian mengalami proses pendidikan yang luar biasa, teori dan teknik yang mutakhir. Namun saya menduga akan miskin inspirasi, kurang semangat, dan sering kehilangan arah, bahkan muncul kecenderungan untuk semena-mena serta kurang menghayati makna menjadi insan intelijen yang mengabdikan diri hanya untuk kepentingan rakyat, bangsa, negara, melalui penyusunan produk intelijen untuk single client, the President. Saya hanya khawatir kualitas terbaik tersebut akan terkooptasi oleh budaya pembusukan yakni menggunakan ilmu intelijen untuk kepentingan pribadi, kelompok dan politik tertentu, serta terkungkung dalam paradigma ketakutan dengan mengedepankan ancaman, sampai-sampai lupa bahwa tidak semua aspek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus dilihat dari sisi ancaman. Benar bahwa waspada adalah kunci keselamatan, tetapi intelijen sebagaimana artinya adalah kelompok manusia cerdas yang dapat melihat, menilai dan memperkirakan serta memiliki alternatif jalan keluar yang tepat bagi negara.

Keempat, STIN tidak ubahnya sama dengan sekolah-sekolah milik Departemen seperti STAN, STIS, STSN, STPDN, dll yang diharapkan dapat menjadi sumber dari tenaga-tenaga profesional untuk memajukan organisasi. Hanya saja berbeda dengan lembaga yang lebih terbuka, akan sangat sulit bagi seseorang yang menyandang keilmuan intelijen untuk membangun kerahasiaan dirinya yang sesungguhnya, atau dengan kata lain sejak lahirnya sudah memiliki label intelijen. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Mossad dan FSB yang hampir seluruh operatornya adalah tentara pilihan dari yang paling terpilih, kemudian membangun identitas baru yang disiapkan secara khusus dan benar-benar lahir dalam suatu identitas baru. Berbeda juga dengan model pendidikan intelijen Barat dengan dua contoh CIA dan MI6 yang merekrut lulusan terbaik dari universitas terbaik dari berbagai bidang, kemudian memberikan bekal pendidikan intelijen khusus selama periode tertentu, mulai dari 3 bulan untuk standar posisi clerical, hingga tahunan dan kekhususan yang dititipkan kepada universitas terbaik di masing-masing negara (AS, Inggris). Saya pernah melakukan pengawasan khusus dengan networking pemerhati Indonesia, bahwa sejumlah agen analis CIA dan MI6 belajar di Indonesia dan Australia, semua sangat normal dan bahkan bersahabat dengan banyak orang Indonesia. Perbedaan yang sangat mendasar adalah dalam melatih agen operasional yang tidak terlalu membutuhkan pendidikan formal yang mendalam, yang diperlukan hanya dasar pengetahuan yang kuat dan pelatihan khusus sehingga memiliki skill yang sangat tinggi dibidang keahliannya. Sudahkan STIN memikirkan hal ini ?

Dalam era yang semakin terbuka, dan gelombang demokrasi yang terus bergerak dinamis di Indonesia, Intelijen Indonesia perlu mengantisipasi masa depan yang sudah semakin dekat dengan berbagai persiapan strategis termasuk dalam mempersiapkan tenaga-tenaga handal melalui berbagai metode rekrutmen, STIN hanya salah satu model dengan berbagai kekuatan dan kelemahannya.

Akhirnya saya ingin bertanya kepada pimpinan STIN, akankah siap untuk membuka diri dengan sistem seleksi nasional yang dapat dipertanggungjawabkan, lebih jauh lagi bagaimana dengan peningkatan kualitas pendidikan dari waktu ke waktu, dan bagaimana pula dengan rencana pembinaan karirnya di masa mendatang.

Kepada ratusan (entah mungkin sudah mencapai ribuan) pengirim email kepada Blog I-I yang menanyakan tentang STIN, perlu adik-adik pikirkan lagi secara serius apakah studi intelijen menjadi menarik karena fantasi James Bond atau Jason Bourne? ataukah karena kesungguhan ingin mendalami dan mengabdikan diri dalam dunia intelijen Indonesia? keduanya sangat berbeda.

Pada akhirnya perlu saya sampaikan bahwa seleksi masuk STIN saya dengar cukup ketat dan hanya sedikit yang diterima (30 orang setiap tahun, mungkin sekarang sudah bertambah). Bila menginginkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dapat menghubungi Kementerian Pendidikan Nasional untuk menanyakan contact point, atau langsung ke Kantor BIN yang sangat terkenal tertutup itu di kawasan Pasar Minggu. Apabila dari kedua pintu tersebut, adik-adik belum berhasil maka saya menterjemahkan posisi STIN sebagai sekolah yang tertutup dengan sistem seleksi yang tertutup pula, yang mungkin hanya dipahami oleh Tim yang melakukan rekrutmen dan lulusan SMA yang telah direkrut. Tidak banyak yang dapat diinformasikan oleh Blog I-I, karena faktanya ketertutupan merupakan ciri khas dunia intelijen.

Selamat mencoba.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasi yah
madridista89

Daftar Blog Saya

Entri Populer